Mengenai Saya

Foto Saya
Hello, tueys is back. And now I'm. Not longer a high school student anymore. I'm a college girl at analyst campus. Thanks for following my blog

Kamis, 15 Desember 2011

makalah Pkn budaya politik partisipan


BUDAYA POLITIK PARTISIPAN
Makalah
Disusun sebagai Tugas pada Mata Pelajaran PKn yang Diampu oleh Bapak Idrus  Pasue,S.E







OLEH
PRATIWI SAFITRI MANASA





KEMENTERIAN AGAMA
MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) MODEL
GORONTALO
2011
KATA PENGANTAR
            Ucapan syukur penulis panjatkan kepada Allah swt. yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah PKn ini. Makalah ini disusun sebagai tugas untuk mata pelajaran PKn yang diampu oleh Bapak Idrus Pasue S.E. Makalah ini ditata sedemikian rupa agar mudah dimengerti oleh pembaca nantinya,bukan hanya dipahami oleh penulis karena makalah ini bukan hanya sebagai tugas, tetapi juga sebagai tambahan sumber materi.
            Mudah-mudahan makalah ini dapat dipergunakan untuk menambah refernsi buku pelajaran. Saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan guna perbaikan di masa datang sangatlah diharaapkan dari pembaca.
           
Gorontalo, September 2011


                                                                             Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.....................................................................................            i
KATA PENGANTAR...................................................................................           ii
DAFTAR ISI.................................................................................................          iii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................         1
1.1. Latar Belakang..........................................................................................
1.2. Rumusan Masalah......................................................................................
    2.1 Definisi dari Budaya Politik...................................................................
    2.2 Konsekuensi dari Budaya Politik...........................................................
    2.3 Bagaimanakah Aktivitas Partai Politik...................................................
1.3. Tujuan........................................................................................................
1.4. Manfaat.....................................................................................................
BAB II.PEMBAHASAN BUDAYA POLITIK PARTISIPAN.                           2
1..1 Pengertian Umum Budaya Politik.............................................................
1.2. Pengertian Budaya Politik.........................................................................
1.3. Pengertian Budaya Politk secara Etimologi..............................................
1.4. Aktivitas Partai Politik..............................................................................
           4.1. Perekrutan Anggota Partai Politik..................................................         5
      4.2. Konsekuensi dari Sikap Politik............................................................
BAB III SIMPULAN DAN SARAN.............................................................         6
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................         7
  

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.latar Belakang
            Budaya politik partisipan yang berkembang di indonesia, apakah termasuk budaya politik partisipan murni,karena dalam penerapannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terdapat beberapa individu bahkan sekelompok masyarakat yang malah memuilih budaya politik parokial dalam menjalani kehidupan sebagai warga negara.
            Indonesia sama seperti negara-negara yang menganut paham demokrasi lainnya,mempunyai partai-partai politik lalu bagaimanakah cara perekrutan para anggotanya, setiap sikap politik yang diambil individu atau sekelompok masyarakat pasti memiliki konsekuensi.

1.2. Rumusan Masalah
       Berikut ini adalah rumusan permasalahan dari penulisan makalah ini
            2.1 Definisi dari Budaya Politik
            2.2 Konsekuensi dari Budaya Politik
2.3 Bagaimanakah Aktivitas Partai Politik?

1.3. Tujuan
            Adapun tujuan penulisan makalah ini diantaranya:
1.      Mengetahui penjelasan tentang pengertian budaya politik partisipan.
2.      Mengidentifikasi konsekuensi dari budaya politik.
3.      Mengetahui aktivitas partai politik dan cara perekrutan anggota partai politik.

1.4. Manfaat
            Menambah sumber khasanah ilmu pengetahuan rentang budya plitik partisipan dan menambah referensi materi budaya politik.

BAB II
BUDAYA POLITIK PARTISIPAN

1.1. Pengertian Umum Budaya Politik
       Budaya politik merupakan sistem dan nilai keyakinan yang dimiliki masyarakat. Akan tetapi, setiap unsur budaya masyarakat berbeda dengan para elitenya. Masyarakat senantiasa mengidentifikasi diri mereka dengan simbol-simbol dam lembaga kenegaraan berdasarkan orientasi yang mereka miliki.
        Budaya politik biasanya berpusat pada imajinasi (pikiran dan perasaan) perseorangan, yang merupakan dasar semua tingkah laku politik masyarakat. Sementara sistem nilai yang hidup di tengah-tengah masyarakat merupakan komponen penting bagi pembentukannya yang merupakan refleksi terhadap orientasi, sikap dan perilaku politik masyarakat dalam merespons setiap objek dan proses politik yang sedang berjalan.
          Para ilmuwan politik yang sangat berperanan dalam mengembangkan teori kebudayaan politik, seperti Gabriel Almond, Sidney Verba dan Lucian W.Pye, hampir setengah abad yang lampau telah merintis sebuah riset tentang keterkaitan antara budaya dan politik. Mereka menyatakan bahwa setiap proses politik senantiasa terjadi dalam lingkup budaya. Artinya, dalam jangka waktu tertentu akan selalu terjadi proses dialektika antara kehidupan politik di satu pihak dengan sistem nilai budaya masyarakat di pihak lain.
           Budaya politik sendiri merupakan cerminan sikap khas warga negara terhadap sistem politik dan aneka ragam bagiannya, serta sikap terhadap peranan warga negara di dalam sistem politik itu. Oleh karena itu, ia tidak lain dari orientasi psikologis terhadap objek sosial, dalam hal ini sistem politik yang kemudian mengalami proses internalisasi ke dalam bentuk orientasi yang bersifat kognitif (pemahaman dan keyakinan), afektif (ikatan emosional/perasaan) dan evaluatif (penilaian).
          Budaya politik juga merupakan rangkaian kepercayaan, kebiasaan dan perilaku yang berkaitan dengan kehidupan politik. Ia pada hakikatnya merupakan lingkungan psikologis tempat kegiatan-kegiatan politik berlangsung yang memberikan rasionalisasi untuk menolak atau menerima sejumlah milai dan norma lainnya. Dalam derajat yang tertinggi, budaya politik umumnya akan dapat membentuk aspirasi, obsesi, preferensi dan prioritas tertentu dalam menghadapi tantangan yang diakibatkan oleh perubahan politik. Dengan sikap dan orientasi seperti itu, disertai dengan adanya determinan nilai-nilai keunggulan lokal (local genius) maka akan dapat dijumpai berbagai tipe budaya politik lokal yang berbeda-beda di berbagai daerah.
           Menurut Gabriel Almond dan Sidney Verba (Sri Jutmini Winarno,2007:4) ”budaya politik mengacu pada sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dn bagian-bagian lainnya dan sikap terhadap peranan warga negara dalam sistem itu. Apabila diikuti terminologi Almond dan Verba, maka dalam kehidupan masyarakat dapat dijumpai setidaknya tiga tipe budaya politik, yaitu masyarakat dengan budaya parokial, kawula, dan partisipan.
Dalam penulisan makalah ini khusus mengangkat tentang budaya politik partisipan saja. Ini didasarkan kepada kesesuaian dengan sistem politik kita yang demokrasi. Masyarakat yang sangat dominan memiliki kompetensi politik yang tinggi, di mana warga masyarakat mampu memberikan evaluasi terhadap proses politik yang sedang berjalan, akan membentuk sebuah budaya politik yang partisipan. Masyarakat sudah mulai melibatkan diri secara intensif dalam berbagai kegiatan politik. Mereka bisa merupakan anggota aktif ormas atau parpol, atau anggota masyarakat biasa yang dapat menilai dengan penuh kesadaran baik sistem politik sebagai totalitas, masukan atau keluaran kebijakan pemerintah, maupun posisi dirinya sendiri dalam berpolitik.
Dalam studi yang dilakukan oleh Almond dan Verba ditemukan bahwa negara-negara yang mempunyai budaya politik yang sudah matang akan menopang demokrasi yang stabil. Sebaliknya, negara-negara yang memiliki derajat budaya politik yang belum matang tidak mendukung terwujudnya demokrasi yang stabil. Kematangan budaya politik tersebut ditunjukkan dengan peluang yang diberikan oleh negara kepada masyarakat untuk mandiri, sehingga memiliki tingkat kompetensi yang tinggi.
Demokratisasi dan budaya politik demokratis hanya bisa diciptakan setelah melalui proses sosialisasi politik. Proses ini mewariskan berbagai nilai politik dari satu generasi ke generasi berikutnya, lewat berbagai agen, seperti keluarga, teman sepergaulan, sekolah/perguruan tinggi, dan media massa yang menghasilkan individu mandiri.

1.2. Pengertian Budaya politik secara Etimologi
Budaya politik bersal dari dua kata, yaitu budaya dan politik. Kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu buddhayah, merupakan jamak dari buddhi, yang berarti akal budi. Adapun kata politik berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata polis yang berarti kota atau negara kota. Politik mengandung pengertian adanya hubungan khusus antara manusia yang hidup bersama, yang menimbulkan adanya aturan, kewenangan dan kekuasaan.

1.3.Budaya politik Partisipan
Budaya politik partisipan yaitu budya dimana masyarakat sangat aktif dalam kehidupan politik,dan masyarakat yang bersangkutan sudah sangat maju baik sosial maupun ekonomi. Contoh budaya politik partisipan antara lain adalah peran serta masyarakat dalam dalam pengembangan budaya politik yang sesuai dengan tata nilai budaya bangsa indonesia. Dalam kehidupan nyata ini tidak ada satupun negar yang memiliki budaya politik partisipan murni,melinkan terdapat variasi campuran diantara tipe-tipe partisipan, parokial, atau subyek. Ketiganya menurut para ahli tervariasi kedalam tiga bentuk budaya politik yaitu:
a.       Budaya Politik Subyek-parokial
b.      Budya Politik  Subyek-Partisipan
c.       Budaya Politik Parokial-Partisipan
Budaya partisipan adalah budaya dimana masyarakat sangat aktif dalam kehidupan politik. Masyarakat dengan budaya politik partisipasi, memiliki orientasi yang secara eksplisit ditujukan kepada sistem secara keseluruhan, bahkan terhadap struktur, proses politik dan administratif. Tegasnya terhadap input maupun output dari sistem politik itu. Dalam budaya politik itu seseorang atau orang lain dianggap sebagai anggota aktif dalam kehidupan politik, masyarakat juga merealisasi dan mempergunakan hak-hak politiknya.
         Dengan demikian, masyarakat dalam budaya politik partsipan tidaklah menerima begitu saja keputusan politik. Hal itu karena masyarakat telah menyadari bahwa betapa kecilnya mereka dalam sistem politik, mereka tetap memiliki arti bagi berlangsungnya sistem itu dengan keadaan ini masyarakat memiliki kesadaran sebagai totalitas, masukan, keluaran dalam konstelasi sistem politk yang ada.
         Anggota-anggota masyaarakat partisipatif diarahkan pada peranan pribadi sebagai aktivitas masyarakat partisipatif diarahkan pada peranan pribadi sebagai aktivitas masyarakat,meskipun sebenarnya dimungkinkan mereka menolak atau menerima.
         Berikut ini adalah tipe-tipe budaya politik yang ideal:
-Individu dan masyarakatnya telah mempunyai perhatian, kesadaran, dan minat yang tinggi terhadap sstem politk pemerintah.
--individu dan  masyarakatnya mampu memainkan  peran politik baik dalam proses input (pemberian dukungan/tuntutan terhadap sistem daolitik) maupun dalam proses output (melaksanakan, menilai, dan mengkritik terhadap kebijakan dan keputusan politik pemerintah.

1.4. Aktivitas Partai Politik
         Aktivitas partai politik merupakan kegiatan politik dalam menyampaikan gagasan, menentukan kebijakan-kebijakan umum, penentuan wakil-wakil partai untuk legislatif atau berupaya agar cita-cita terwujud. Partai politik hanya sebagai wadah untuk menyalurkan aspirais melalui sistem politik yang telah disepakati.
4.1. Perekrutan anggota partai politik
            Dalam perekrutan anggota partai politik,pengurus partai politik melakukan kontak pribadi, pendekatan kader, menyamakan vis dan misi partai, bahkan pelatihan-pelatihan dasr atau singkat serta menanamkan solidaritas dan tanggung jawab.

4.1. Konsekuensi dari Sikap Politik
            Konsekuensi dari sikpa politik yang ditimbulkan dari sikap politik tersebut,bisa bermakna positif atau negatif, baik bagi individu maupun kelompok masyarakat. Bahkan kadang bermakna positif bagi individu tetapi bermakna negatif bagi masyarakat, atau sebaliknya.


BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
1.1. Simpulan
Budaya politk merupakan bagian dari masyarakat dengan ciri-ciri yang lebih khas. Budaya politik partisipan yaitu budaya dimana masyarakat sangat aktif dalam kehidupan politik, dan masyarakat yang bersangkutan sudah relatif maju baik sosial maupun ekonomi.
Setiap budaya politik yang kita ambil baik sebagai individu maupun masyarakat mempunyai konsekuensi tersendiri.
Partai politk sendiri adalah sarana untuk kita berpartisipasi dalam politik,jadi partai politik adalah alat untuk mengikuti budaya politik sebagai warga negara.

1.2. Saran
       Budaya politk partisiap ntidak mutlak menjadi pilihan kita dalam berbangsa dan bernegara, tetapi hendaknya kita memilih budaya politik partisiapan sebagai budaya politik yang kita ambil,karena memangkewajiban kita sebagai warga negara untuk ikut serta dalam aktifitas politk, misalnya pemilu baik sebagai pemilih maupun yang dipilih.












DAFTAR PUSTAKA
Budaya politik.http://mkieschool.com, diunduh tanggal 28 september 2011
Rocmadi, Nur Wahyu.2006. kewarganegaraan 2. Jakarta: Yudhistira.






 
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar